Kita
semua tentu saja sudah familiar dengan GDP (gross domestic products) atau,
dalam bahasa Indonesia, PDB (Produk Domestik Bruto). GDP atau PDB digunakan
sebagai indikator pertumbuhan ekonomi nasional suatu negara. Sering kali, PDB
dijadikan indikator keberhasilan ekonomi suatu negara. Bicara mengenai
indikator, sudahkah perencanaan kota memiliki indikator keberhasilan programnya?
Bisakah
kita menggunakan GNH sebagai indikator keberhasilan pembangunan?
GNH sebagai indikator
GNH
(Gross National Happiness) atau kebahagiaan nasional bruto, dirancang untuk
mengukur kualitas hidup atau kemajuan sosial secara psikologis dan lebih
menyeluruh, sementara GDP yang hanya mengukur secara ekonomi (Wikipedia, 2010).
Istilah GNH pertama kali diperkenalkan oleh raja Bhutan's keempat Dragon
King, Jigme Singye Wangchuck pada tahun 1972. GNH mendapat berbagai reaksi beragam dari
kalangan internasional. Sebagian menganggap bahwa hal ini benar dan merupakan
suatu terobosan besar yang akan mempengaruhi sistem pembangunan global,
sebagian lagi menyangsikannya.
Saya pribadi,
menganggap ide ini menarik sekalipun tidak praktis. Menarik karena ide yang
menurut sebagian kalangan menggelikan ini justru memiliki esensi yang luar
biasa mulia. Tidak praktis karena: bagaimana mungkin sebuah lembaga dapat
mengukur kebahagiaan penduduk dan mengakumulasikannya? GNH adalah hasil dari pemikiran
yang dalam, yang sensitif terhadap kemajuan kesejahteraan masyarakat. Tidak seperti
GDP yang mengukur kemajuan secara kuantitas, GNH memberi penekanan pada
penekanan kualitas hidup.
"Recording the percentage of people who say they are happy will tell you... [just] how people use words," -Deirdre McCloskey
Meskipun idenya baik, GNH dianggap memiliki banyak kecacatan. Mulai dari variable-variabel kebahagian yang tidak dapat diukur, kemudian asumsi bahwa kebahagian tidak memiliki nilai yang sama bagi setiap orang. Sebagian orang menganggap GNH belum sempurna.
GNH sebagai indikator bagi perencanaan kota
The four pillars of GNH are the promotion of sustainable development, preservation and promotion of cultural values, conservation of the natural environment, and establishment of good governance. (Wikipedia,2010)
![]() |
| sumber: www.bhutan2008.bt |
Sangat
mungkin untuk menjadikan GNH sebagai indikator keberhasilan perencanaan kota. 4
pilar GNH, seperti yang disebutkan diatas, merupakan unsur-unsur yang selama
ini menjadi tujuan perencanaan kota. Masalahnya adalah, Bhutan sendiri,
sekalipun tercatat dalam peringkat ke 12 GNH tertinggi, justru memiliki GDP
yang sangat rendah. Ini berarti, ekonomi bukan merupakan faktor yang dianggap
penting dalam pembangunan sebuah negara. Sekalipun ekonomi tidak berpengaruh
pada pembangunan dari segi psikologi, perekonomian yang baik mutlak diperlukan
dalam pembangunan fisik. Perekonomianlah yang menggerakan roda-roda
pembangunan, karena dari sektor ekonomi, pemerintah mendapat materi untuk
pembangunan.
Kesimpulannya,
GDP dapat digunakan sebagai indeks yang menunjukan kemungkinan pembangunan,
sekaligus menjadi dasar pembangunan. Karena GDP dapat dijadikan indikator
pertumbuhan dan perkembangan fisik suatu negara. Sementara GNH dapat digunakan
sebagai tolak ukur keberhasilan pembangunan dari segi psikologis dan spiritual.
Baca Mengenai GNH:



Tidak ada komentar:
Posting Komentar